Tabanan, Bali – Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, kini menggarap berbagai aktivitas wisata berbasis pertanian dan olahraga. Langkah ini bertujuan untuk memperpanjang durasi kunjungan wisatawan sekaligus mendongkrak perekonomian warga setempat.
Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, menjelaskan bahwa pengembangan aktivitas baru ini diharapkan dapat membuat wisatawan tinggal lebih lama di Jatiluwih. “Kami buat aktivitas wisata agar durasi wisata lebih lama, bukan satu atau dua jam, setelah itu pergi,” ujar Purna.
Beberapa paket atraksi wisata yang ditawarkan meliputi kegiatan menanam padi, treking, hingga bersepeda. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Penerimaan daerah diharapkan meningkat melalui tiket masuk, jasa pemandu wisata, pengemudi wisata, penginapan homestay, restoran, hingga warung kecil yang menjual makanan dan minuman.
Saat ini, terdapat sekitar 70 kamar homestay yang dikelola oleh warga di kawasan Jatiluwih.
Untuk mendukung strategi ini, pengelola DTW Jatiluwih bekerja sama dengan biro perjalanan wisata melalui kegiatan temu bisnis atau table top. Promosi melalui media sosial juga digencarkan untuk menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas, termasuk segmen anak muda.
Pihaknya juga berupaya memperluas pangsa pasar wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, dengan menargetkan negara-negara Asia seperti India dan Korea Selatan yang menunjukkan pertumbuhan minat. Upaya ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap dampak krisis geopolitik global yang masih berlangsung.
Secara tradisional, mayoritas wisatawan asing yang berkunjung ke Jatiluwih berasal dari Eropa, terutama Prancis, Jerman, Italia, dan Spanyol. Namun, rute penerbangan dari Eropa yang umumnya melalui Timur Tengah kini menghadapi potensi gangguan, yang berimbas pada industri pariwisata.
Purna mengakui bahwa konflik seperti perang Iran-Amerika Serikat dan Israel telah memengaruhi tingkat kunjungan harian. Rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara di DTW Jatiluwih menurun dari sekitar 1.500 menjadi 1.200 orang per hari.
Penurunan kunjungan wisatawan asing juga tercatat secara umum di Bali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, kunjungan turis asing pada Januari-Mei 2026 mencapai 2,59 juta, atau turun 1,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 2,64 juta.
Desa Jatiluwih, yang terletak di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2012. Pengakuan ini diberikan atas sistem persawahan teraseringnya yang menggunakan sistem subak. Hingga kini, kawasan sawah dengan latar belakang Gunung Batukaru tetap lestari dan menjadi identitas utama Jatiluwih sebagai destinasi wisata.